BATAM – Bagi pelancong Muslim yang berencana berkunjung ke Malaysia saat bulan Ramadan, ada aturan penting yang perlu diketahui. Berbeda dengan Indonesia, makan di tempat umum pada siang hari bagi umat Muslim di Malaysia bisa berujung masalah hukum.
Aturan ini terutama berlaku bagi mereka yang terlihat mengenakan atribut Muslim, seperti jilbab. Jika kedapatan makan di ruang publik pada siang hari saat Ramadan, baik konsumen maupun pihak restoran bisa dikenai sanksi.
Pemandangan ini dapat ditemui di Suria KLCC, salah satu pusat perbelanjaan terbesar yang berada di kompleks Petronas Twin Towers.
Baca juga: Libur Lebaran di Batam? Ini 6 Pantai Murah Meriah dengan View Singapura yang Wajib Masuk Wishlist!
Di area food court lantai dua mal tersebut, pramusaji biasanya akan memberikan peringatan kepada pengunjung yang mengenakan atribut Muslim jika mereka berniat makan di tempat pada siang hari selama Ramadan.

“Jika konsumen berpakaian Muslim makan di ruang terbuka saat bulan puasa, akan ada konsekuensi denda, baik bagi konsumen maupun penjualnya,” ujar salah satu pramusaji di lokasi tersebut.
Pengawasan terhadap aturan ini dilakukan secara berlapis. Selain petugas keamanan internal mal, aparat kepolisian juga dapat melakukan pemantauan untuk memastikan aturan tersebut dipatuhi.
Meski demikian, pengunjung yang berhalangan puasa tetap diperbolehkan membeli makanan. Namun, mereka hanya diperkenankan membawa makanan tersebut pulang atau take away, bukan menyantapnya di area publik.
Baca juga: Anti Boros! Ini 5 Rute Walking Tour Gratis di Singapura dengan Pemandangan Ikonik
Disiplin Ketat Juga Terlihat di Johor Bahru
Aturan serupa juga terlihat di kota Johor Bahru, khususnya di restoran legendaris Restoran Hua Mui yang terkenal dengan menu chicken chop.
Berbeda dengan banyak warung makan di Indonesia yang biasanya memasang tirai penutup selama Ramadan, restoran ini tidak menggunakan tirai. Namun, mereka menerapkan aturan yang sangat ketat terhadap tamu Muslim yang ingin makan di tempat pada siang hari.
Jika ada pelancong Muslim yang memesan makanan dan ingin menyantapnya di restoran, pihak pramusaji akan langsung menolak permintaan tersebut.
Bahkan, pengunjung tersebut biasanya diminta menunggu pesanan di luar area makan agar tidak menarik perhatian petugas.
“Restoran bisa didenda jika membiarkan tamu Muslim makan di depan publik. Sebaiknya menunggu di luar area makan saja,” kata seorang pramusaji asal Indonesia yang bekerja di restoran tersebut.
Catatan Penting Bagi Turis Saat Ramadan
Kondisi ini menjadi catatan penting bagi para wisatawan yang merencanakan perjalanan ke Malaysia selama bulan Ramadan.
Memahami aturan lokal bukan hanya soal menghindari sanksi hukum, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap budaya dan disiplin beragama yang dijunjung tinggi di negara tersebut.
Bagi pelancong Muslim yang berhalangan puasa, pilihan paling aman biasanya adalah membeli makanan untuk dibawa pulang atau makan di tempat yang lebih tertutup, seperti di kamar hotel atau area privat.
Dengan memahami aturan ini sejak awal, perjalanan ke Malaysia selama Ramadan tetap bisa berlangsung nyaman tanpa menimbulkan masalah.
Informasi paket tour liburan ke Malaysia, bisa hubungi di sini. (d)


Pingback: Tradisi Unik dari Kepri! Balap Perahu Jong Tanpa Nahkoda Ini Bikin Wisatawan Penasaran