BINTAN – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi, Kepulauan Riau ternyata masih menyimpan tradisi unik yang tetap hidup hingga sekarang. Salah satunya adalah balap perahu Jong, permainan tradisional khas masyarakat Melayu pesisir yang kini bahkan menjadi atraksi wisata budaya.
Permainan ini mempertemukan ratusan miniatur perahu layar yang saling beradu cepat di atas laut, digerakkan hanya oleh kekuatan angin tanpa bantuan mesin maupun nahkoda.
Baca juga: Liburan ke Malaysia Saat Ramadan? Hati-Hati, Makan di Tempat Umum Bisa Kena Denda
Tradisi tersebut masih rutin digelar dan menjadi tontonan menarik bagi wisatawan, terutama saat festival budaya di kawasan pesisir.
Tradisi Nelayan Sejak Zaman Kerajaan

Balap perahu Jong ternyata memiliki sejarah panjang. Permainan ini sudah dikenal sejak masa Kerajaan Johor–Pahang–Riau–Lingga masih berjaya.
Pada masa itu, para nelayan memainkan Jong sebagai hiburan ketika cuaca buruk membuat mereka tidak bisa melaut.
Miniatur kapal tersebut dibuat dari kayu ringan seperti kayu pulai atau metangoh yang mudah dibentuk. Ukuran perahu Jong pun beragam, mulai dari panjang sekitar 50 sentimeter hingga mencapai 2 meter.
Menariknya, tinggi layar perahu menyesuaikan dengan ukuran kapal. Misalnya, Jong sepanjang 1,5 meter dapat memiliki layar hingga sekitar 2 meter.
Karena hanya mengandalkan tenaga angin, balap Jong tidak bisa dimainkan kapan saja. Para pemain biasanya menunggu musim angin yang tepat agar perahu bisa melaju dengan maksimal.
Baca juga: Libur Lebaran di Batam? Ini 6 Pantai Murah Meriah dengan View Singapura yang Wajib Masuk Wishlist!
Festival Budaya yang Menarik Wisatawan
Kini, balap perahu Jong tidak lagi sekadar permainan nelayan. Tradisi ini berkembang menjadi festival budaya yang menarik perhatian wisatawan.
Pada tahun ini, festival balap Jong dijadwalkan digelar di Pantai Lagoi, Bintan Utara pada awal April mendatang.
Ajang tersebut diprediksi semakin meriah karena akan diikuti 526 peserta dari 31 komunitas perahu Jong.
Peserta tidak hanya berasal dari Pulau Bintan, tetapi juga dari Batam, Karimun, hingga negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Salah satu komunitas internasional yang pernah ikut meramaikan festival ini adalah Changi Sailing Club (CSC) dari Singapura.
General Manager CSC, Choy Yi Hong, mengatakan festival ini memberikan pengalaman unik karena menampilkan balap perahu tradisional yang sepenuhnya bergantung pada angin.
Menurutnya, kesempatan melihat ratusan miniatur kapal Jong berlayar bersama di laut menjadi pemandangan yang sangat mengesankan.
Dorong Wisata Budaya Bintan
Festival Jong juga menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan budaya lokal kepada wisatawan.
Data tahun 2025 menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan domestik ke Bintan mencapai 744.468 orang, meningkat sekitar 18,45 persen dari tahun sebelumnya.
Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara juga meningkat sekitar 21,45 persen dengan total 253.366 orang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan, Arief Sumarsono, menyebut pertumbuhan tersebut harus diikuti dengan penyajian pengalaman wisata yang berkualitas.
Salah satunya melalui festival budaya seperti balap perahu Jong.
Dengan kembali meramaikan Pantai Lagoi melalui ratusan perahu Jong warna-warni, tradisi budaya Melayu di Kepulauan Riau diharapkan tetap lestari sekaligus menjadi daya tarik wisata yang unik bagi turis lokal maupun mancanegara.
Tertarik untuk menyaksikan Festival Jong bulan April nanti, segera hubungi Barokah Tour. (d)
Sumber: detik


Pingback: Kalahkan Bali! Singapura Dinobatkan Jadi Destinasi Budaya Terbaik Dunia 2026 Versi Traveler