TANJUNGPINANG – Kepulauan Riau memang identik dengan wisata bahari. Namun, di balik hamparan laut dan gugusan pulau eksotis, terdapat sebuah destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda. Pulau Penyengat Inderasakti di Kota Tanjungpinang menyimpan jejak sejarah, budaya, religi, hingga peninggalan Kesultanan Riau-Lingga.
Pulau seluas sekitar 240 hektare ini dahulu menjadi salah satu pusat pertahanan dan pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga pada abad ke-18 hingga ke-19.
Baca juga: One Day Trip Singapura: 5 Tempat Belanja Murah yang Bikin Dompet Tetap Aman!
Kini, Pulau Penyengat menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya yang menarik untuk dikunjungi. Wisatawan bisa menemukan masjid bersejarah, makam para raja dan pahlawan, benteng pertahanan, bekas kompleks istana hingga bangunan penyimpanan amunisi kerajaan.
Lebih menarik lagi, Pulau Penyengat memiliki kaitan erat dengan perkembangan bahasa Melayu melalui sosok Raja Ali Haji dan mahakaryanya, Gurindam 12.
Baca juga: Jangan Cuma ke Jembatan Barelang! Ini 10 Destinasi Wisata Rempang-Galang Batam yang Bikin Nagih
Masjid Raya Sultan Riau, Ikon Wisata Pulau Penyengat
Salah satu daya tarik utama Pulau Penyengat adalah Masjid Raya Sultan Riau.
Masjid bersejarah yang didominasi warna kuning dan hijau ini menjadi ikon Pulau Penyengat. Arsitekturnya yang khas membuat bangunan tersebut mudah dikenali sekaligus menjadi salah satu lokasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
Ada cerita unik di balik bangunan masjid ini. Dindingnya disebut menggunakan campuran putih telur sebagai bahan perekat dalam proses pembangunannya.
Di dalam masjid, wisatawan juga dapat menemukan sejumlah peninggalan bersejarah, termasuk Al-Qur’an tulisan tangan kuno.
Perpaduan antara sejarah, arsitektur dan nilai religi membuat Masjid Raya Sultan Riau menjadi destinasi yang wajib masuk daftar kunjungan ketika berada di Pulau Penyengat.
Jejak Raja Ali Haji dan Gurindam 12
Pulau Penyengat memiliki tempat istimewa dalam sejarah kebudayaan Melayu.
Pulau ini berkaitan erat dengan Raja Ali Haji, pahlawan nasional yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan bahasa Melayu.
Raja Ali Haji menghasilkan Gurindam Dua Belas (Gurindam 12), sebuah karya sastra Melayu yang hingga kini masih dipelajari dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Melayu.
Karena sejarah tersebut, perjalanan ke Pulau Penyengat bukan sekadar liburan. Wisatawan juga dapat mengenal lebih dekat akar kebudayaan dan perkembangan bahasa Melayu yang memiliki pengaruh besar terhadap bahasa Indonesia.
Makam Para Raja dan Tokoh Melayu
Bagi wisatawan yang menyukai wisata sejarah dan religi, kompleks makam para raja dan tokoh Melayu menjadi salah satu lokasi menarik untuk dikunjungi.
Di kawasan tersebut terdapat makam Raja Ali Haji, Raja Haji Fisabilillah, dan Engku Putri Raja Hamidah.
Makam-makam tersebut menjadi saksi sejarah perjalanan Kesultanan Riau-Lingga sekaligus mengingatkan wisatawan terhadap peran tokoh-tokoh penting dalam perkembangan masyarakat Melayu di Kepulauan Riau.
Kompleks Istana Kantor, Sisa Kejayaan Kesultanan
Pulau Penyengat juga menyimpan Kompleks Istana Kantor, salah satu situs peninggalan Kesultanan Riau-Lingga.
Dahulu, kompleks ini berfungsi sebagai kantor sekaligus kediaman resmi Yang Dipertuan Muda Kesultanan.
Meskipun kini yang tersisa berupa bagian-bagian bangunan dan reruntuhan, lokasi ini tetap menarik untuk dikunjungi karena memberikan gambaran mengenai kehidupan pemerintahan kerajaan pada masa lalu.
Wisatawan yang datang juga bisa merasakan atmosfer sejarah yang kuat ketika menyusuri kawasan peninggalan tersebut.
Benteng Bukit Kursi, Benteng Pertahanan Menghadap Laut
Ingin melihat sisi lain sejarah Pulau Penyengat? Datanglah ke Benteng Bukit Kursi.
Benteng ini merupakan bagian dari sistem pertahanan kerajaan yang berada di lokasi strategis menghadap laut. Di kawasan tersebut masih terdapat jejak parit pertahanan dan meriam besi kuno.
Dahulu, kawasan ini digunakan untuk mengantisipasi ancaman dan mengawasi perairan di sekitar Pulau Penyengat.
Kini, Benteng Bukit Kursi menjadi salah satu lokasi menarik bagi wisatawan yang ingin melihat peninggalan pertahanan Kesultanan Riau-Lingga sekaligus menikmati suasana pulau.
Gedung Mesiu, Bangunan Unik Peninggalan Kerajaan
Selain benteng, terdapat pula Gedung Mesiu, bangunan dengan bentuk berkubah yang cukup unik.
Bangunan tersebut pada masa lalu digunakan sebagai tempat penyimpanan amunisi dan bahan peledak kerajaan.
Keberadaan Gedung Mesiu memperlihatkan bahwa Pulau Penyengat tidak hanya berperan sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan, tetapi juga memiliki sistem pertahanan yang penting.
Mengenal Budaya Melayu di Balai Adat Indra Perkasa
Pulau Penyengat juga menjadi tempat yang tepat untuk mengenal lebih dekat budaya Melayu.
Salah satunya melalui Balai Adat Indra Perkasa, replika rumah panggung khas Melayu yang digunakan untuk memperkenalkan berbagai unsur kebudayaan lokal.
Wisatawan dapat melihat pakaian adat Melayu dan berbagai unsur tradisi masyarakat setempat. Tempat ini juga menjadi ruang untuk berbagai kegiatan kebudayaan dan musyawarah.
Keliling Pulau Penyengat Naik Bentor
Ukuran Pulau Penyengat yang tidak terlalu luas membuat wisatawan cukup mudah menjelajah berbagai destinasi dalam satu kunjungan.
Salah satu pilihan transportasi yang bisa digunakan adalah bentor atau becak motor. Wisatawan dapat berkeliling mengunjungi berbagai situs sejarah dengan tarif yang umumnya berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000, tergantung rute dan kesepakatan.
Bagi wisatawan yang ingin menjelajah dengan cara lebih mandiri, tersedia pula pilihan skuter listrik yang dapat disewa dengan tarif bervariasi.
Sementara itu, untuk mencapai Pulau Penyengat dari Tanjungpinang, wisatawan dapat menggunakan perahu pompong.
Perjalanan dari dermaga Tanjungpinang menuju Pulau Penyengat hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Tarif penyeberangan juga relatif terjangkau, sekitar Rp7.000 per orang, meski harga dapat berubah sewaktu-waktu.
Cara ke Pulau Penyengat dari Batam
Wisatawan dari Batam juga dapat mengunjungi Pulau Penyengat dalam perjalanan wisata ke Tanjungpinang.
Rute yang umum digunakan adalah berangkat dari Pelabuhan Telaga Punggur, Batam, menggunakan feri domestik menuju Pelabuhan Sri Bintanpura, Tanjungpinang.
Setelah tiba di Tanjungpinang, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju dermaga penyeberangan Pulau Penyengat. Dari dermaga tersebut, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu pompong dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.
Rute ini membuat Pulau Penyengat menjadi pilihan menarik bagi wisatawan Batam yang ingin menikmati wisata sejarah dan budaya di Kepulauan Riau.
Pulau Penyengat, Wisata Sejarah yang Wajib Masuk Bucket List
Pulau Penyengat membuktikan bahwa destinasi wisata di Kepulauan Riau bukan hanya tentang pantai dan laut.
Di pulau kecil ini, wisatawan dapat menemukan jejak Kesultanan Riau-Lingga, masjid bersejarah, benteng pertahanan, makam para tokoh Melayu, peninggalan kerajaan hingga warisan sastra Raja Ali Haji.
Dengan akses yang relatif mudah dan biaya perjalanan yang terjangkau, Pulau Penyengat cocok menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata sejarah, wisata religi dan wisata budaya di Tanjungpinang.
Jika berkunjung ke Kepulauan Riau, jangan hanya mencari destinasi dengan pemandangan laut. Sisihkan waktu untuk menyeberang ke Pulau Penyengat dan menyusuri jejak sejarah Melayu yang masih tersimpan hingga hari ini.
Bagi wisatawan yang ingin perjalanan lebih praktis, Barokah Tour & Travel Batam juga menyediakan paket tour ke Pulau Penyengat dan Bintan, sehingga perjalanan wisata dapat dirancang dengan lebih mudah dan nyaman. (dr)

