Mengenal Sultan Mahmud Riayat Syah, Pahlawan Nasional yang Namanya Jadi Kodam Kepri dan Masjid Ikonik Batam

Mengenal Sultan Mahmud Riayat Syah, Pahlawan Nasional yang Namanya Jadi Kodam Kepri dan Masjid Ikonik Batam

BATAM – Nama Sultan Mahmud Riayat Syah kembali menjadi perhatian setelah namanya digunakan sebagai identitas Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah di Kepulauan Riau.

Bagi masyarakat Batam, nama tersebut sebenarnya sudah tidak asing karena diabadikan menjadi nama salah satu masjid ikonik kota, Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah di Tanjunguncang.

Baca juga: Batam Jadi Destinasi Favorit Wisatawan Singapura, Ini 10 Tempat dan Aktivitas yang Paling Diburu!

Namun, siapa sebenarnya Sultan Mahmud Riayat Syah?

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Riau, mengenal sosok Sultan Mahmud Riayat Syah bukan sekadar mempelajari sejarah. Kisahnya juga menjadi bagian penting dari perjalanan memahami identitas Melayu, sejarah Kesultanan Riau-Lingga, hingga perkembangan Batam dan Kepulauan Riau sebagai kawasan strategis di jalur perdagangan internasional.

Baca juga: Cari Tempat Liburan Anak di Batam? Ini Rekomendasi Wisata Alam yang Seru dan Edukatif

Siapa Sultan Mahmud Riayat Syah?

Sultan Mahmud Riayat Syah, yang juga dikenal sebagai Sultan Mahmud Syah III, merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Melayu.

Ia merupakan Sultan dan Yang Dipertuan Besar Johor-Riau-Lingga-Pahang. Namanya erat dengan sejarah Kesultanan Riau-Lingga serta perjuangan menghadapi kekuatan kolonial Belanda pada akhir abad ke-18.

Sultan Mahmud dikenal bukan hanya karena kedudukannya sebagai seorang sultan, tetapi juga karena strategi perlawanannya. Perjuangannya sering dikaitkan dengan penggunaan strategi gerilya laut yang memanfaatkan karakter geografis kawasan Melayu yang terdiri atas pulau-pulau, selat dan jalur perdagangan.

Karena itulah, kisah Sultan Mahmud Riayat Syah menjadi menarik ketika dikaitkan dengan Kepulauan Riau masa kini yang juga memiliki karakter geografis kepulauan dan berada di jalur pelayaran internasional.

Perlawanan Sultan Mahmud Riayat Syah terhadap Belanda

Salah satu episode penting dalam sejarah perjuangan Sultan Mahmud terjadi pada 13 Mei 1787.

Pasukan Sultan Mahmud bersama para sekutunya melakukan penyusupan menuju kawasan Riau melalui jalur Penyengat dan Senggarang. Serangan dilakukan secara tiba-tiba dan kemudian berkembang menjadi pertempuran dengan pasukan Belanda.

Serangan tersebut membuat pasukan Belanda terdesak. Dalam berbagai catatan sejarah, Residen Belanda di Riau, David Ruhde, disebut meninggalkan Riau dan melarikan diri ke Melaka.

Belanda kemudian menyiapkan serangan balasan dengan kekuatan yang lebih besar di bawah pimpinan Pieter Jacob van Braam.

Namun, Sultan Mahmud tidak menunggu pasukan Belanda datang.

Ia menggunakan strategi berpindah dan memanfaatkan wilayah kepulauan untuk menghindari serangan sekaligus mempertahankan kekuatan kesultanannya.

Sultan Mahmud Memindahkan Pusat Kesultanan ke Lingga

Salah satu bagian paling menarik dari sejarah Sultan Mahmud Riayat Syah adalah keputusan memindahkan pusat kesultanan dari kawasan Riau ke Daik, Lingga.

Perpindahan tersebut dilakukan setelah muncul informasi mengenai rencana serangan balasan Belanda.

Sultan Mahmud bersama rakyatnya kemudian bergerak menuju Lingga menggunakan ratusan perahu. Sebagian masyarakat dan pendukung kesultanan juga menyebar ke berbagai wilayah lain seperti Pahang, Bulang, Trengganu dan Kalimantan.

Strategi tersebut membuat kekuatan Sultan Mahmud tidak bergantung pada satu pusat kekuasaan.

Dari Lingga, perjuangan terus berlanjut. Kondisi geografis Kepulauan Riau yang terdiri dari banyak pulau dan jalur laut menjadi bagian penting dari strategi perlawanan.

Bagi wisatawan yang kini berkunjung ke Lingga, Penyengat, Bintan maupun Batam, jejak sejarah Kesultanan Riau-Lingga ini memberikan perspektif berbeda terhadap pulau-pulau yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata.

Mengapa Sultan Mahmud Disebut Pahlawan Nasional?

Perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah kemudian mendapat pengakuan dari negara Indonesia.

Pada 9 November 2017, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Mahmud Riayat Syah.

Penganugerahan tersebut menjadi bagian penting dalam pengakuan negara terhadap tokoh yang memiliki peran dalam sejarah perjuangan masyarakat Melayu di kawasan Riau-Lingga.

Sejak saat itu, nama Sultan Mahmud Riayat Syah semakin kuat menjadi bagian dari identitas sejarah Kepulauan Riau.

Nama Sultan Mahmud Riayat Syah Diabadikan di Batam

Jejak nama Sultan Mahmud Riayat Syah juga dapat ditemukan di Kota Batam.

Di kawasan Tanjunguncang berdiri Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, sebuah masjid besar yang menjadi salah satu ikon wisata religi Batam.

Masjid ini berada di Jalan Brigjen Katamso, Tanjunguncang, dan diresmikan pada 20 September 2019.

Dengan kapasitas sekitar 25 ribu jamaah, masjid tersebut menjadi salah satu destinasi religi yang menarik untuk dikunjungi wisatawan ketika berada di Batam.

Arsitekturnya memadukan unsur Islam dengan karakter budaya Melayu. Bangunan masjid yang megah juga menjadikannya salah satu landmark Batam yang mudah dikenali.

Bagi wisatawan, berkunjung ke masjid ini bukan hanya soal melihat bangunan yang besar dan megah. Nama yang digunakan juga membawa cerita panjang tentang sejarah Melayu dan perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah.

Dari Sejarah Melayu hingga Identitas Kepri Modern

Penggunaan nama Sultan Mahmud Riayat Syah untuk Kodam XXV membuat tokoh sejarah tersebut kembali menjadi perhatian publik.

Nama yang sama kini dapat ditemukan dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat Kepri, mulai dari sejarah, tempat ibadah hingga institusi pertahanan.

Hal ini juga memperlihatkan bagaimana tokoh sejarah lokal dapat menjadi bagian dari identitas sebuah daerah.

Sultan Mahmud Riayat Syah bukan hanya nama yang tercantum dalam buku sejarah. Kisah perjuangannya berkaitan erat dengan wilayah kepulauan yang kini menjadi bagian dari Provinsi Kepulauan Riau.

Lingga menjadi salah satu pusat penting dalam perjalanan sejarahnya. Penyengat dan Bintan memiliki kaitan dengan sejarah Kesultanan Riau-Lingga. Sementara Batam kini mengabadikan namanya melalui sebuah masjid ikonik.

Wisatawan Bisa Mengenal Sejarah Kepri dari Jejak Sultan Mahmud

Jika berkunjung ke Kepulauan Riau, wisata sejarah dapat menjadi pilihan menarik selain menikmati pantai, kuliner dan wisata bahari.

Wisatawan dapat mengunjungi berbagai kawasan yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Melayu, seperti Pulau Penyengat, Bintan dan Lingga.

Sementara di Batam, Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah dapat menjadi salah satu tujuan wisata religi.

Dengan memahami kisah Sultan Mahmud Riayat Syah, perjalanan wisata di Kepri bisa menjadi lebih bermakna. Setiap pulau, selat dan kawasan pesisir tidak hanya menyimpan pemandangan, tetapi juga cerita panjang tentang kerajaan Melayu, perdagangan, perjuangan dan perubahan zaman.

Kini, ketika nama Sultan Mahmud Riayat Syah kembali digunakan sebagai identitas Kodam di Kepulauan Riau, sosoknya kembali mengingatkan masyarakat bahwa sejarah Melayu merupakan bagian penting dari perjalanan panjang Kepri. (dr)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *