SINGAPURA – Singapura bukan cuma soal Merlion, Orchard Road, atau Marina Bay Sands. Di balik gemerlap kota modern, negeri ini menyimpan jejak budaya peranakan (baba nyonya) yang kaya, unik, dan masih hidup hingga kini.
Peranakan adalah komunitas keturunan imigran—terutama Tionghoa—yang menikah dengan penduduk lokal Melayu, lalu melahirkan budaya campuran yang khas. Mulai dari kuliner, busana, arsitektur, hingga tradisi, semuanya punya identitas kuat yang membedakan peranakan dari budaya lain di Asia Tenggara.
Kalau kamu penasaran ingin menyelami warisan budaya ini, berikut rekomendasi wisata peranakan di Singapura yang wajib kamu kunjungi.
1. Peranakan Museum Singapore, Surga Sejarah Baba Nyonya

Peranakan Museum Singapore menjadi pusat pelestarian budaya peranakan yang paling lengkap. Museum ini menempati bangunan sekolah tua yang direnovasi menjadi gedung tiga lantai bergaya kolonial.
Di dalamnya, pengunjung bisa melihat koleksi kebaya peranakan, perhiasan, aksesori, hingga ruang tematik yang menggambarkan kehidupan keluarga, pernikahan, serta kepercayaan masyarakat peranakan. Menariknya, museum ini dilengkapi teknologi interaktif seperti layar sentuh dan augmented reality.
Jika beruntung, wisatawan juga bisa mengikuti workshop kue peranakan dan demonstrasi membatik yang kerap digelar secara berkala.
Baca juga: Rahasia Liburan 3H2M di Batam: Makan Seafood, Spa, Belanja Murah
2. Katong dan Joo Chiat, Ikon Warna-Warni Peranakan
Kawasan Katong dan Joo Chiat dikenal sebagai wajah paling ikonik budaya peranakan di Singapura. Deretan ruko warna-warni di Koon Seng Road dengan motif bunga, keramik, dan ubin geometris selalu jadi incaran kamera wisatawan.
Di East Coast Road, ada lorong kecil yang menampilkan karya seni “Medley Alley”, berupa sayap dari ubin warna-warni yang melambangkan metamorfosis generasi peranakan.
Tak lengkap rasanya ke sini tanpa mencicipi laksa Katong dan berburu oleh-oleh khas di Kim Choo Kueh Chang yang legendaris.
3. Baba House NUS, Rumah Pusaka Penuh Cerita

Baba House NUS adalah rumah pusaka peranakan yang dipugar oleh National University of Singapore. Dengan eksterior biru cerah, rumah ini menampilkan kehidupan peranakan kelas atas pada awal abad ke-20.
Di dalamnya, terdapat sekitar 2.000 barang antik, mulai dari mebel, peralatan rumah tangga, hingga ornamen khas peranakan. Rumah ini juga menjadi pusat riset akademik, tempat arkeolog dan sejarawan NUS meneliti ikonografi bangunan.
Pengunjung disarankan membuat janji terlebih dahulu agar bisa menikmati tur berpemandu secara maksimal.
4. Emerald Hill, Tenang di Tengah Kota
Tak jauh dari Orchard Road, Emerald Hill menawarkan suasana berbeda dengan deretan rumah toko peranakan bergaya Barok Tionghoa yang terawat rapi. Beberapa bangunan kini beralih fungsi menjadi bar dan tempat nongkrong berkonsep heritage.
Bagi yang ingin alternatif tanpa alkohol, Tea Bone Zen Mind menyajikan aneka teh unik dan hidangan gourmet berbasis street food. Kawasan ini ramah pejalan kaki dan cocok untuk wisata santai sambil menikmati arsitektur klasik.
5. Blair Road dan Everton Park, Nostalgia yang Lebih Sunyi
Blair Road dan Everton Park dikenal sebagai kawasan warisan Blair Plain, yang menampilkan rumah toko peranakan bergaya rococo dengan warna mencolok, ubin khas, dan jendela kayu klasik.
Dulunya, area ini merupakan permukiman eksklusif keluarga kaya peranakan. Kini suasananya lebih tenang dibanding Katong, cocok untuk menikmati street art dan berjalan santai sambil bernostalgia.
Warisan yang Masih Hidup
Singapura berhasil merawat budaya peranakan sebagai bagian penting dari identitas nasionalnya. Dari museum hingga kawasan permukiman, jejak baba nyonya masih terasa kuat hingga hari ini.
Kalau kamu ingin liburan yang bukan sekadar foto-foto, tapi juga sarat makna budaya, wisata peranakan di Singapura layak masuk agenda perjalananmu berikutnya. Hubungi Barokah Tour untuk paket liburan di Singapura. (d)
Sumber idntimes


Pingback: Tangga Seribu Batam: Spot Nongkrong, Camping, dan Berburu Foto Estetik