BATAM – Siapa sangka, kawasan hutan mangrove yang dulunya menjadi lokasi pembuangan sampah liar kini menjelma sebagai destinasi ekowisata unggulan Kota Batam. Hutan Mangrove Pandang Tak Jemu yang terletak di Kampung Tua Bakau Serip, Kecamatan Nongsa, kini tak hanya memanjakan mata, tetapi juga berperan penting sebagai penghasil oksigen dan penyerap karbon alami.
Berdiri di tengah perkampungan Adat Melayu, kawasan mangrove ini mulai dibenahi sejak 2018 melalui inisiatif Gari Dafit Semet bersama masyarakat setempat. Dengan semangat gotong royong, warga membersihkan kawasan dari sampah dan mengubahnya menjadi ruang hidup bernilai ekologis dan ekonomi.
Baca juga: Rayakan Tahun Baru Tanpa ke Singapura, Ini 5 Spot di Batam untuk Lihat Kembang Api
Kini, hutan mangrove seluas sekitar 7 hektare tersebut berkembang menjadi wisata edukasi lingkungan, yang dikelilingi hutan lindung seluas kurang lebih 100 hektare. Keberadaannya disebut sebagai salah satu paru-paru Kota Batam sekaligus ruang belajar terbuka tentang pelestarian alam.
Upaya masyarakat Kampung Tua Bakau Serip pun membuahkan hasil. Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu berhasil masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022, serta meraih Juara III kategori Suvenir.
Pada Kamis (1/1) pagi, kawasan ini mendapat perhatian khusus dari Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, yang melakukan kunjungan langsung ke lokasi. Dalam kesempatan tersebut, Wamenpar menanam lima pohon mangrove sebagai simbol dukungan pemerintah terhadap pengembangan ekowisata berbasis keberlanjutan di Batam.
“Saya sangat senang dan mendukung konsep regenerative tourism. Wisatawan tidak hanya menikmati alam, tetapi juga ikut menjaga dan berbuat untuk alam, seperti menanam dan merawat mangrove,” ujar Ni Luh Puspa.
Baca juga: Daftar Harga Hotel di Batam Malam Tahun Baru 2026, Mulai Rp 46 Ribu hingga Rp 5,6 Juta
Menurutnya, Desa Wisata Bakau Serip memiliki peran strategis dalam edukasi lingkungan, khususnya bagi pelajar. Setiap bulan, kawasan ini mampu menarik ribuan pengunjung, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
“Kami akan terus mendukung agar wisata edukasi dan pelestarian lingkungan seperti ini bisa terus berkembang,” tambahnya.
Menawarkan Pengalaman Wisata Berbeda
Sementara itu, Ketua Desa Wisata Mangrove Pandang Tak Jemu, Gari Dafit Semet, menjelaskan bahwa kawasan ini menawarkan pengalaman wisata yang tidak biasa. Selain menikmati alam, pengunjung diajak mengikuti program wisata reflektif dan edukatif, salah satunya hipnoterapi alam.
“Pengunjung diajak membersihkan sampah plastik, menanam mangrove, lalu relaksasi di alam terbuka. Ada juga terapi memeluk pohon mangrove, berdoa, hingga mencurahkan isi hati,” kata Gari.
Program tersebut ternyata banyak diminati wisatawan mancanegara, terutama dari Singapura. Bahkan, dalam sehari jumlah pengunjung bisa mencapai 500 orang. Sepanjang tahun 2025, tingkat kunjungan disebut meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Peningkatannya cukup luar biasa,” ujarnya.
Ke depan, Kementerian Pariwisata juga berencana memberikan dukungan lanjutan berupa penambahan jembatan tracking mangrove sepanjang 100 meter pada 2026.
“Kalau jembatan ditambah, pengunjung bisa melihat langsung ke arah Singapura dan Batam Center. Itu akan menjadi daya tarik baru,” jelasnya.
Tak hanya berdampak pada sektor pariwisata, Mangrove Pandang Tak Jemu juga berkontribusi besar terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat. Warga dilibatkan dalam pengelolaan kawasan, Pokdarwis, hingga pengembangan ekonomi kreatif. Bahkan, tersedia program beasiswa dan bantuan seragam sekolah untuk 15 anak tidak mampu di sekitar kawasan.
“Itu berasal dari dukungan swasta dan rekomendasi kementerian sejak era Pak Sandiaga Uno,” ungkap Gari.
Meski jumlah wisatawan terus meningkat, pengelola tetap menerapkan pembatasan kunjungan demi menjaga keseimbangan ekosistem mangrove.
“Kalau terlalu padat, dampaknya ke lingkungan, terutama sampah. Jadi tetap kami batasi,” tegasnya.
Saat ini, komposisi wisatawan didominasi wisatawan mancanegara sekitar 60 persen, sementara wisatawan lokal 40 persen. Turis asing mayoritas berasal dari Singapura, Malaysia, Korea, Taiwan, China, hingga Eropa, banyak di antaranya merupakan pelajar dari sekolah internasional.
Melalui konsep regenerative tourism, Mangrove Pandang Tak Jemu mengintegrasikan wisata alam, edukasi lingkungan, aksi bersih sampah, penanaman mangrove, kuliner lokal, hingga terapi alam dalam satu pengalaman utuh.
Tertarik wisata ke sana? Hubungi Barokah Tour untuk liburan di Batam. (d)
Sumber: batampos

