Rahasia Masjid Raya Sultan Riau: Dari Putih Telur hingga Al-Qur'an Tulisan Tangan

Rahasia Masjid Raya Sultan Riau: Dari Putih Telur hingga Al-Qur’an Tulisan Tangan

BINTAN – Wisata religi di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, menawarkan pengalaman berbeda. Salah satu ikon utamanya adalah Masjid Raya Sultan Riau, bangunan bersejarah yang terkenal dengan cerita unik penggunaan putih telur sebagai campuran perekat dindingnya.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Penyengat, rasanya belum lengkap jika belum singgah ke Masjid Raya Sultan Riau. Bangunan berwarna kuning khas Melayu ini bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi kejayaan Kesultanan Riau-Lingga.

Baca juga: Liburan Anti-Mainstream di Riau, Bisa Memandikan Gajah Sumatra di PLG Minas

Yang membuat masjid ini begitu menarik adalah cerita yang telah diwariskan secara turun-temurun: bangunan masjid dipercaya menggunakan campuran putih telur sebagai salah satu bahan perekatnya.

Tak heran, kisah Masjid Raya Sultan Riau kini menjadi salah satu daya tarik wisata sejarah dan religi paling populer di Kepulauan Riau.

Berawal dari Masjid Kayu Sederhana

Sejarah Masjid Raya Sultan Riau tak bisa dipisahkan dari sejarah Pulau Penyengat.

Pulau kecil yang berada di perairan Tanjungpinang ini dikenal sebagai salah satu pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga. Dalam sejarahnya, Pulau Penyengat disebut sebagai mas kawin atau mahar dari Sultan Mahmud Syah III kepada istrinya, Engku Putri Raja Hamidah.

Baca juga: Bukan Sekadar Balap Sepeda! Tour de Bintan 2026 Bawa Ribuan Wisatawan ke Pulau Bintan

Pada sekitar tahun 1803, ketika Pulau Penyengat mulai berkembang, sebuah masjid sederhana berbahan kayu dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Seiring waktu, peran Pulau Penyengat semakin penting sebagai pusat pemerintahan, kebudayaan, pendidikan, dan penyebaran Islam di kawasan Melayu.

Masjid sederhana itu pun dianggap tak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tahun 1832, Masjid Raya Sultan Riau Dibangun Lebih Megah

Perubahan besar terjadi pada tahun 1832.

Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga VII, memprakarsai pembangunan ulang masjid menjadi bangunan yang lebih kokoh dan megah.

Pembangunan dilakukan secara gotong royong. Masyarakat dari berbagai lapisan ikut menyumbangkan tenaga dan bahan bangunan.

Konon, proses pembangunan berlangsung dengan semangat kebersamaan yang luar biasa. Warga bekerja secara bergantian, sementara berbagai bahan makanan juga disediakan untuk para pekerja.

Dari sinilah muncul cerita paling terkenal tentang masjid ini.

Kisah Putih Telur yang Menjadi Perekat Bangunan

Salah satu cerita yang paling sering membuat wisatawan penasaran adalah penggunaan putih telur sebagai campuran perekat bangunan.

Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, selama pembangunan masjid banyak warga menyumbangkan telur untuk kebutuhan makanan para pekerja.

Karena jumlahnya melimpah, putih telur kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu bahan campuran perekat.

Putih telur disebut dicampurkan bersama bahan lain seperti kapur, pasir, dan tanah liat.

Campuran tradisional tersebut dipercaya membuat struktur bangunan menjadi sangat kuat.

Hingga kini, Masjid Raya Sultan Riau telah bertahan selama hampir dua abad dan tetap berdiri sebagai salah satu bangunan bersejarah paling penting di Kepulauan Riau.

Tak sedikit wisatawan yang datang ke Pulau Penyengat hanya untuk melihat langsung masjid yang terkenal dengan cerita “masjid putih telur” ini.

13 Kubah dan 4 Menara, Ternyata Punya Makna Mendalam

Keunikan Masjid Raya Sultan Riau tidak hanya terletak pada kisah bahan perekatnya.

Arsitektur bangunan ini juga sarat dengan simbol-simbol Islam dan budaya Melayu.

Masjid tersebut memiliki 13 kubah dan empat menara.

Jika dijumlahkan, angka tersebut menjadi 17, yang sering dimaknai sebagai simbol jumlah rakaat dalam salat wajib lima waktu sehari semalam.

Bangunan masjid juga memiliki empat tiang utama yang menopang bagian induk.

Empat tiang tersebut dikaitkan dengan berbagai makna dalam tradisi Islam, termasuk simbol empat sahabat utama Nabi Muhammad SAW atau empat mazhab fikih besar.

Secara arsitektur, Masjid Raya Sultan Riau memperlihatkan perpaduan pengaruh Melayu, Arab, India, dan Turki.

Perpaduan tersebut membuat bangunan masjid memiliki karakter yang berbeda dibandingkan banyak masjid bersejarah lainnya di Indonesia.

Ada Al-Qur’an Tulisan Tangan hingga Lampu Kristal dari Eropa

Masuk ke kawasan Masjid Raya Sultan Riau, wisatawan juga akan menemukan berbagai peninggalan bersejarah.

Salah satunya adalah mushaf Al-Qur’an tulisan tangan dari abad ke-19 yang dikaitkan dengan Abdurrahman Stambul.

Mushaf tersebut menjadi bukti penting perkembangan tradisi keilmuan dan Islam di Pulau Penyengat.

Selain itu, terdapat pula lampu kristal berornamen Eropa yang disebut sebagai hadiah dari Raja Prusia.

Masjid Raya Sultan Riau juga memiliki keterkaitan dengan koleksi ratusan kitab kuno yang menjadi bagian dari jejak perkembangan intelektual Kesultanan Riau-Lingga.

Pulau Penyengat memang bukan sekadar pulau wisata biasa.

Di tempat inilah lahir dan berkembang banyak tokoh penting Melayu. Pulau ini juga dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi salah satu akar penting bahasa Indonesia.

Wisata Religi yang Wajib Dikunjungi Saat ke Tanjungpinang

Saat berkunjung ke Tanjungpinang, Pulau Penyengat menjadi salah satu destinasi yang sayang dilewatkan.

Perjalanan menuju pulau ini dapat ditempuh menggunakan perahu dari kawasan pelabuhan di Tanjungpinang. Sesampainya di pulau, wisatawan dapat berkeliling menggunakan transportasi lokal sambil mengunjungi berbagai situs bersejarah.

Selain Masjid Raya Sultan Riau, wisatawan juga bisa menemukan makam raja-raja Melayu, peninggalan Kesultanan Riau-Lingga, serta jejak Raja Ali Haji, tokoh penting dalam sejarah bahasa dan sastra Melayu.

Namun, Masjid Raya Sultan Riau tetap menjadi magnet utama.

Bangunan dengan dominasi warna kuning cerah ini berdiri megah dan menjadi salah satu ikon paling dikenal dari Pulau Penyengat.

Bagi pencinta wisata sejarah, religi, dan budaya Melayu, berkunjung ke masjid ini seperti melakukan perjalanan kembali ke masa ketika Pulau Penyengat menjadi salah satu pusat penting peradaban Melayu.

Jadi, jika sedang liburan ke Tanjungpinang atau Kepulauan Riau, jangan hanya menikmati pantai dan kuliner. Cobalah menyeberang ke Pulau Penyengat dan lihat langsung Masjid Raya Sultan Riau, masjid bersejarah yang terkenal dengan kisah unik campuran putih telur dan telah bertahan selama hampir dua abad.

Siapa sangka, dari sebuah pulau kecil di Kepulauan Riau, berdiri salah satu masjid bersejarah paling unik di Indonesia.

Jika anda tertarik untuk liburan ke Bintan dan wisata religi ke Pulau Penyengat, bisa ikut paket tour Barokah Tour & Travel Batam. (dr)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *