Misteri Perigi Tua Pulau Penyengat, Sumur Bersejarah yang Airnya Tetap Tawar Meski Dikelilingi Laut

Misteri Perigi Tua Pulau Penyengat, Sumur Bersejarah yang Airnya Tetap Tawar Meski Dikelilingi Laut

TANJUNGPINANG – Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), tidak hanya menyimpan peninggalan masjid bersejarah dan bangunan kerajaan Melayu. Di balik gang-gang kampung dan kawasan permukiman tradisionalnya, terdapat puluhan perigi atau sumur tua yang menjadi saksi kehidupan masyarakat pada masa Kesultanan Riau-Lingga.

Menariknya, sumur-sumur bersejarah tersebut memiliki keunikan tersendiri. Meski berada di sebuah pulau kecil yang dikelilingi air laut, sejumlah perigi tetap menghasilkan air tawar yang dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: 15 Event Wisata Kepri November 2026, Ada Sea Eagle Boat Race, Bintan Marathon hingga Festival Musik!

Keberadaan perigi tua ini bukan sekadar peninggalan bangunan masa lampau. Sumur-sumur tersebut menyimpan cerita tentang kehidupan, tradisi, strategi bertahan hidup, hingga perkembangan peradaban Melayu di Pulau Penyengat sejak berabad-abad silam.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Penyengat, menjelajahi perigi tua bisa menjadi pengalaman wisata sejarah yang berbeda. Ada kisah kerajaan, arsitektur unik, hingga legenda rakyat yang menarik untuk ditelusuri.

Baca juga: Harga Ferry Batam-Singapura November 2026, Siapkan Uang Segini untuk Pulang-Pergi

Asal-usul Nama Pulau Penyengat dan Kisah Para Pelaut

Sebelum berkembang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga, Pulau Penyengat telah dikenal sebagai tempat persinggahan para pelaut, nelayan, dan pedagang yang melintasi jalur perdagangan Selat Malaka.

Salah satu alasan pulau ini sering disinggahi adalah keberadaan sumber air tawar yang melimpah. Para pelaut biasanya berhenti untuk mengisi persediaan air sebelum melanjutkan perjalanan melalui perairan Kepulauan Riau.

Menurut cerita sejarah yang berkembang di masyarakat, nama Penyengat berawal dari pengalaman para pelaut yang mengambil air tawar di pulau tersebut. Mereka konon disengat serangga sejenis lebah atau tawon ketika sedang mencari sumber air.

Peristiwa itulah yang kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama Pulau Penyengat.

Kisah tersebut memperlihatkan betapa pentingnya keberadaan sumber air tawar bagi pulau yang dikelilingi laut ini. Bahkan, sebelum menjadi pusat kerajaan, Penyengat sudah memiliki nilai strategis bagi aktivitas pelayaran di kawasan Selat Malaka.

Perigi Putri, Sumur Khusus Keluarga Kerajaan Melayu

Misteri Perigi Tua Pulau Penyengat, Sumur Bersejarah yang Airnya Tetap Tawar Meski Dikelilingi Laut
Perigi Putri yang dibangun tahun 1803 pada masa Kesultanan Riau-Lingga (ist)

Salah satu perigi paling terkenal di Pulau Penyengat adalah Perigi Putri atau dikenal juga sebagai sumur Engku Putri.

Perigi ini memiliki hubungan erat dengan sejarah Kesultanan Riau-Lingga, khususnya setelah Sultan Mahmud Syah III menghadiahkan Pulau Penyengat kepada istrinya, Engku Putri Raja Hamidah, sebagai mas kawin pada awal abad ke-19.

Perigi Putri diperkirakan dibangun setelah tahun 1803. Pada masa kerajaan, sumur ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan menjadi tempat pemandian khusus bagi Engku Putri serta perempuan di lingkungan istana.

Keunikan Perigi Putri terlihat dari bentuk bangunannya. Sumur ini berada di dalam bangunan persegi berdinding beton dengan atap berbentuk kubah setengah silinder.

Bentuk atap tersebut menjadikannya berbeda dibandingkan perigi-perigi lain yang tersebar di Pulau Penyengat.

Kini, Perigi Putri menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Wisatawan dapat melihat langsung bentuk bangunan sumur yang menyimpan jejak kehidupan keluarga kerajaan Melayu.

Perigi Dua, Saksi Sejarah di Depan Masjid Raya Sultan Riau

Selain Perigi Putri, terdapat Perigi Dua yang berada tepat di depan Masjid Raya Sultan Riau, kawasan Kampung Jambat.

Lokasinya cukup strategis karena berdekatan dengan salah satu ikon wisata sejarah paling terkenal di Pulau Penyengat, yakni Masjid Raya Sultan Riau.

Masjid yang identik dengan warna kuning dan hijau tersebut memiliki cerita pembangunan yang sangat terkenal. Salah satunya adalah penggunaan putih telur sebagai campuran bahan perekat dalam proses pembangunannya.

Keberadaan Perigi Dua di kawasan tersebut memperlihatkan bagaimana sumber air menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Melayu, termasuk dalam mendukung aktivitas keagamaan dan permukiman.

Wisatawan yang mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau dapat sekaligus menyempatkan diri melihat perigi tua ini.

Dengan begitu, perjalanan wisata tidak hanya berhenti pada bangunan masjid, tetapi juga mengenal infrastruktur kehidupan masyarakat pada masa Kesultanan Riau-Lingga.

Perigi Suluk dan Jejak Kehidupan Spiritual Masyarakat Melayu

Perigi tua lainnya yang menarik untuk ditelusuri adalah Perigi Suluk.

Sumur ini berada di kawasan Kampung Ladi, tepatnya di bawah bangunan Balai Adat Melayu Indera Perkasa.

Keberadaan Perigi Suluk menambah daftar peninggalan sejarah yang tersebar di berbagai sudut Pulau Penyengat.

Setiap perigi memiliki cerita dan hubungan tersendiri dengan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Selain menjadi sumber air, sumur juga menjadi bagian dari lingkungan sosial dan aktivitas sehari-hari penduduk.

Keberadaan sumur-sumur tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat zaman dahulu membangun kehidupan di sebuah pulau dengan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana.

Legenda Perigi Tujuh, Antara Cerita Rakyat dan Misteri

Tidak hanya menyimpan peninggalan sejarah yang dapat dilihat secara langsung, Pulau Penyengat juga memiliki cerita rakyat mengenai Perigi Telaga Tujuh atau Perigi Tujuh Purnama.

Menurut cerita lisan masyarakat, sumur legendaris ini dikaitkan dengan kisah para pelaut zaman dahulu hingga mitos putri kayangan.

Cerita tersebut menjadi bagian dari kekayaan tradisi lisan masyarakat Melayu yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Meski keberadaan dan kisahnya masih menyisakan perdebatan, legenda Perigi Tujuh memberikan warna tersendiri bagi wisata sejarah Pulau Penyengat.

Bagi wisatawan yang menyukai cerita sejarah dan folklor, kisah ini menjadi salah satu hal menarik untuk digali ketika berkunjung ke pulau tersebut.

Keajaiban Perigi Tua, Airnya Tetap Tawar Meski Dekat Laut

Salah satu hal yang membuat perigi-perigi tua di Pulau Penyengat menarik perhatian adalah kondisi airnya.

Secara geografis, pulau ini dikelilingi oleh laut. Namun, sejumlah sumur tua di dalam kawasan permukiman tetap menghasilkan air tawar yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Fenomena tersebut menjadi bagian menarik dari karakter geografis Pulau Penyengat.

Bagi masyarakat setempat, perigi tua bukan hanya sumber air, tetapi juga peninggalan yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Sebagian airnya masih dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, sementara beberapa sumur juga dikunjungi wisatawan.

Ada pula kepercayaan masyarakat yang mengaitkan air dari perigi tertentu dengan keberkahan. Sebagian pengunjung bahkan menyempatkan diri membasuh muka ketika singgah di lokasi tersebut.

Meski demikian, kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat dan bukan klaim yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Perigi Tua Menjadi Bagian dari Wisata Cagar Budaya Pulau Penyengat

Puluhan perigi tua yang tersebar di Pulau Penyengat merupakan bagian penting dari warisan sejarah dan budaya masyarakat Melayu.

Untuk mempermudah pengenalan serta pelestarian, sejumlah perigi diberi penomoran dan papan informasi sejarah. Penamaan seperti Perigi Satu, Perigi Dua, dan seterusnya membantu wisatawan mengenali lokasi serta memahami fungsi sumur pada masa lampau.

Sebagian perigi juga telah dilengkapi fasilitas pompa modern agar sumber airnya tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Upaya pelestarian ini penting karena perigi bukan sekadar bangunan tua. Di dalamnya tersimpan cerita mengenai kehidupan masyarakat, perkembangan permukiman, dan strategi pemenuhan kebutuhan air pada masa Kesultanan Riau-Lingga.

Tips Wisata Mengunjungi Perigi Tua di Pulau Penyengat

Bagi wisatawan yang ingin menjelajahi perigi-perigi bersejarah, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan.

Mulai perjalanan dari Masjid Raya Sultan Riau. Lokasi ini menjadi salah satu titik utama wisata sejarah Pulau Penyengat.

Gunakan pemandu lokal. Pemandu dapat membantu menjelaskan sejarah perigi dan cerita yang berkembang di masyarakat.

Jelajahi kawasan kampung. Beberapa perigi berada di sekitar permukiman sehingga wisatawan dapat menikmati suasana kehidupan masyarakat setempat.

Jaga kebersihan situs sejarah. Jangan membuang sampah atau merusak bagian bangunan perigi.

Hormati tradisi masyarakat. Jika ingin melihat atau memanfaatkan air sumur, sebaiknya meminta izin kepada warga setempat.

Puluhan Perigi Tua, Warisan Berharga yang Tak Boleh Dilupakan

Perigi tua di Pulau Penyengat menjadi bukti bahwa sejarah sebuah peradaban tidak hanya tersimpan dalam istana, masjid, atau bangunan besar.

Di balik bentuk sumur yang sederhana, terdapat cerita panjang mengenai kehidupan masyarakat Melayu, perjalanan para pelaut, dan kejayaan Kesultanan Riau-Lingga.

Keberadaan Perigi Putri, Perigi Dua, Perigi Suluk, hingga berbagai sumur tua lainnya menjadi pengingat bahwa air tawar pernah menjadi sumber kehidupan sekaligus kekuatan strategis bagi Pulau Penyengat.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Tanjungpinang, menyusuri perigi-perigi tua ini bisa menjadi pilihan wisata sejarah yang berbeda.

Sebab, mengenal Pulau Penyengat bukan hanya tentang melihat peninggalan kerajaan, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat Melayu membangun peradaban dan mempertahankan kehidupan di sebuah pulau kecil di tengah lautan.

Untuk informasi paket wisata ke Pulau Penyengat, bisa hubungi Barokah Tour & Travel Batam. (dr)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *