BATAM – Selama ini Batam mungkin lebih dikenal sebagai kota industri, pusat perdagangan, destinasi belanja, hingga tempat berburu kuliner. Namun, di balik wajah modern tersebut, Batam menyimpan perjalanan sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.
Salah satu tempat terbaik untuk mengenalnya adalah Museum Batam Raja Ali Haji.
Berada di kawasan pusat Kota Batam, museum ini menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus edukasi yang mengajak pengunjung melihat perjalanan Batam dari masa Kesultanan Melayu, era penjajahan, hingga berkembang menjadi kota industri modern.
Baca juga: Jangan Ngaku Pernah ke Batam Kalau Belum Coba Kuliner Ini! Rekomendasi Seafood hingga Mi Legendaris
Menariknya, untuk menikmati wisata sejarah ini, pengunjung tidak perlu menyiapkan bujet besar. Tiket masuk untuk pelajar hanya Rp5.000 per orang, sedangkan pengunjung umum dikenakan Rp10.000. Sementara wisatawan mancanegara dikenakan Rp15.000 per orang.
Museum ini buka Selasa hingga Minggu pukul 09.00–16.00 WIB, sementara Senin menjadi hari libur museum. Bagi pengunjung yang ingin menikmati pengalaman audiovisual, fasilitas Mini Theater beroperasi hingga pukul 15.30 WIB.
Dari Astaka MTQ hingga menjadi museum
Ada cerita menarik di balik bangunan Museum Raja Ali Haji.
Sebelum difungsikan sebagai museum, gedung ini merupakan bekas Astaka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-25 tahun 2014. Bangunan tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi museum dan resmi dibuka pada 18 Desember 2020.
Baca juga: Weekend di Batam? 7 Destinasi Ini Wajib Masuk Itinerary, Nomor 6 Bikin Adrenalin Terpacu
Museum ini kemudian menjadi salah satu ruang penting untuk mengenalkan sejarah dan kebudayaan Batam kepada masyarakat maupun wisatawan.
Bahkan, museum tersebut telah mendapatkan sertifikasi Tipe B dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
Menelusuri Batam dari masa Melayu hingga era industri
Begitu berada di dalam museum, pengunjung akan diajak mengikuti linimasa perjalanan peradaban Batam.
Bukan hanya membaca keterangan di balik kaca, pengalaman berkunjung dibuat lebih interaktif dengan dukungan teknologi. Pengunjung dapat memanfaatkan kode QR untuk mendapatkan informasi tambahan mengenai sejumlah koleksi dan sejarah yang ditampilkan.
Salah satu bagian yang menarik adalah cerita mengenai masa Riau-Lingga.
Di bagian ini, pengunjung dapat melihat replika Cogan, yaitu salah satu alat kebesaran atau regalia yang berkaitan dengan Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang. Koleksi tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami kuatnya pengaruh kebudayaan Melayu dalam sejarah kawasan Kepulauan Riau.
Selain itu, terdapat pula berbagai khazanah budaya Melayu serta temuan keramik kuno yang memperlihatkan jejak hubungan Batam dengan dunia perdagangan dan peradaban masa lalu.
Ada cerita Nong Isa hingga masa penjajahan
Perjalanan sejarah Batam tidak berhenti pada masa kerajaan.
Museum Raja Ali Haji juga membawa pengunjung menuju periode penjajahan Belanda dan Jepang, hingga cerita mengenai Raja Isa atau Nong Isa, salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Batam.
Bagian ini menarik bagi wisatawan yang ingin mengetahui bahwa Batam memiliki sejarah jauh sebelum dikenal sebagai kawasan industri seperti sekarang.
Dari satu ruang ke ruang lainnya, pengunjung dapat melihat bagaimana berbagai periode sejarah membentuk identitas Batam.
Mengintip jejak B.J. Habibie membangun Batam
Salah satu bagian yang tidak kalah menarik adalah cerita mengenai B.J. Habibie dan perkembangan Batam pada era Otorita Batam.
Museum menampilkan dokumentasi serta foto-foto bersejarah yang merekam perjalanan Batam selama masa kepemimpinan Habibie di Otorita Batam.
Periode ini menjadi bagian penting dalam transformasi Batam. Dari kawasan yang terus berkembang, Batam mulai diarahkan menjadi kota industri modern dengan pembangunan infrastruktur dan perencanaan yang lebih terstruktur.
Bagi wisatawan, bagian ini memberikan perspektif berbeda tentang Batam. Kota yang hari ini dipenuhi kawasan industri, jalan besar, pelabuhan, bandara, dan pusat bisnis ternyata memiliki proses panjang di balik perkembangannya.
Jangan lewatkan Mini Theater
Kalau ingin pengalaman yang lebih hidup, jangan buru-buru keluar setelah melihat koleksi museum.
Ada Mini Theater yang menghadirkan pengalaman audiovisual mengenai perjalanan sejarah serta perkembangan infrastruktur Batam modern.
Fasilitas ini menjadi salah satu bagian yang menarik terutama bagi pengunjung yang datang bersama keluarga atau anak-anak karena cerita sejarah disampaikan melalui media visual dan audio.
Wisata murah yang cocok untuk itinerary Batam
Museum Raja Ali Haji bisa menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin mencari wisata edukasi di Batam tanpa mengeluarkan banyak biaya.
Lokasinya yang berada di pusat kota juga membuat museum ini mudah dipadukan dengan destinasi lain dalam satu perjalanan.
Jadi, jika itinerary liburan ke Batam selama ini hanya berisi agenda belanja, kuliner, atau jalan-jalan ke kawasan pantai, tidak ada salahnya menyisipkan Museum Raja Ali Haji.
Dengan tiket mulai Rp5.000 untuk pelajar dan Rp10.000 untuk umum, pengunjung bisa mendapatkan pengalaman untuk memahami Batam bukan hanya sebagai kota industri, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki perjalanan sejarah dan budaya yang panjang.
Museum Raja Ali Haji bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda masa lalu. Museum ini adalah pintu untuk memahami bagaimana Batam berubah, bertumbuh, dan akhirnya menjadi salah satu kota paling penting di Indonesia bagian barat.
Jadi, sudah siap memasukkan Museum Raja Ali Haji ke daftar destinasi saat liburan ke Batam? (dr)

