BATAM – Pemerintah Kota Batam mulai mengubah arah pengembangan sektor pariwisata dengan strategi yang lebih beragam. Jika selama ini Batam identik sebagai kota belanja, kuliner, bisnis, dan MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition), kini pemerintah mendorong lahirnya lebih banyak destinasi wisata budaya, sejarah, alam, hingga wisata berbasis masyarakat agar wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama.
Langkah tersebut diyakini akan meningkatkan perputaran ekonomi daerah karena semakin panjang masa kunjungan wisatawan, semakin besar pula potensi belanja yang akan menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga UMKM lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan memperpanjang lama tinggal wisatawan menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan pariwisata Batam ke depan.
“Pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Pengembangannya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata,” ujarnya.
Menurut Ardiwinata, Batam sebenarnya telah memiliki modal yang sangat kuat sebagai destinasi wisata. Saat ini terdapat sekitar 373 hotel, lebih dari 3.800 restoran, serta 11 pusat perbelanjaan modern yang selama bertahun-tahun menjadi daya tarik utama wisatawan domestik maupun mancanegara.
Namun, pemerintah menilai kekuatan tersebut perlu dilengkapi dengan lebih banyak objek wisata agar pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja atau urusan bisnis, tetapi juga menikmati berbagai pengalaman wisata yang beragam.
Saat ini Batam telah memiliki sejumlah pilihan wisata seperti wisata belanja, hiburan, kuliner, MICE, hingga Community Based Tourism (CBT) yang dikembangkan melalui kawasan Pandang Tak Jemu di Kampung Tua Bakau Serip.
Sejumlah Destinasi Baru Mulai Disiapkan
Untuk memperkaya pilihan destinasi wisata, Disbudpar Batam tengah menyiapkan sejumlah proyek strategis yang diharapkan mampu menjadi magnet baru bagi wisatawan.
Program tersebut meliputi pembenahan museum, pembangunan Taman Budaya, pengembangan kawasan Dendang Melayu yang telah masuk dalam skema Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) selama 30 tahun, hingga penataan kawasan wisata religi dan sejarah Zuriat Makam Ngah Isa.
Selain itu, Kebun Raya Batam juga diproyeksikan menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di masa mendatang. Kawasan seluas sekitar 84 hektare tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai wisata alam yang mampu melengkapi daya tarik Batam.
“Kebun Raya Batam memiliki potensi yang luar biasa. Kami masih mengecek status lahannya karena saat ini belum berada di bawah pengelolaan dinas,” kata Ardiwinata.
Pelaku Usaha Diminta Tingkatkan Standar Layanan
Selain membangun destinasi baru, pemerintah juga meminta seluruh pelaku usaha pariwisata meningkatkan kualitas pelayanan melalui penerapan standar CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability).
Standar tersebut dinilai penting untuk memberikan rasa aman, nyaman, dan kepercayaan bagi wisatawan yang datang ke Batam.
Tak hanya itu, Pemko Batam juga membuka akses pembiayaan bagi pelaku usaha melalui berbagai skema, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit berbunga yang disubsidi pemerintah, hingga dana bergulir guna memperkuat pengembangan usaha pariwisata.
Ardiwinata optimistis, melalui sinergi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Batam dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang lebih lengkap.
“Potensi yang dimiliki Batam sangat besar. Tinggal bagaimana seluruh pihak bersama-sama mengelolanya agar setiap destinasi memiliki daya saing dan mampu memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan,” tutupnya. (dr)
Sumber: batampos

