TANJUNGPINANG – Di balik kemegahan Masjid Sultan Riau dan jejak kejayaan Kerajaan Melayu, Pulau Penyengat di Kepulauan Riau menyimpan kisah lama yang belum banyak diketahui wisatawan. Namanya Perigi Telaga Tujuh, sebuah sumur legendaris yang konon pernah berada di tepi pantai dan dikaitkan dengan cerita putri kayangan, cahaya purnama, hingga pelangi yang menyentuh bumi.
Perigi yang juga dikenal dengan sebutan Perigi Tujuh Purnama atau Perigi Kaki Pelangi itu dipercaya pernah berada di kawasan Kampung Baru, di sisi timur Pulau Penyengat. Namun, berbeda dengan bangunan bersejarah lainnya yang masih berdiri hingga kini, wujud perigi tersebut tidak lagi dapat ditemukan secara utuh.
Baca juga: Menjelajahi Pulau Penyengat: Jejak Raja Melayu, Masjid Bersejarah, hingga Kuliner Otak-Otak
Keberadaannya pun masih menjadi perbincangan. Sebagian warga mengenalnya melalui cerita turun-temurun, sementara kalangan sejarawan mempertanyakan bukti yang mendukung kisah tersebut.
Di sinilah daya tarik Pulau Penyengat semakin terasa. Pulau kecil yang terkenal sebagai tujuan wisata sejarah dan religi ini bukan hanya menyimpan peninggalan kerajaan, tetapi juga cerita rakyat yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Melayu merawat ingatan tentang masa lalu.
Baca juga: Tak Perlu Transit Kuala Lumpur! Batam Kini Punya Penerbangan Langsung ke Penang
Perigi Tujuh Purnama, Sumur Tua yang Dikaitkan dengan Pelangi
Jangan membayangkan Perigi Telaga Tujuh sebagai tujuh aliran air yang membentuk telaga kecil. Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, tempat ini dahulu berupa tujuh sumur dengan susunan batu hampar dan mata air yang jernih.
Letaknya dipercaya berada persis di bibir pantai sebelah timur Pulau Penyengat. Seiring waktu, kawasan tersebut mengalami pengikisan akibat abrasi air laut. Kondisi itu diduga menjadi salah satu alasan mengapa bentuk perigi yang diceritakan masyarakat tidak lagi terlihat seperti sumur-sumur tua lainnya.
Helmi, seniman yang lahir dan menetap di Pulau Penyengat, menuturkan bahwa Perigi Telaga Tujuh hidup dalam cerita rakyat setempat. Dalam kisah yang berkembang, tempat tersebut dikaitkan dengan pemandian putri kayangan, sebagaimana legenda yang dikenal di sejumlah wilayah Melayu.
Ada pula kepercayaan bahwa salah satu ujung pelangi akan mengarah ke lokasi perigi ketika pelangi muncul di langit. Cerita inilah yang menjadi salah satu asal-usul sebutan Perigi Kaki Pelangi.
Meski menarik untuk ditelusuri, kisah tersebut belum dapat dipastikan sebagai peristiwa sejarah. Belum ditemukan catatan tertulis yang secara meyakinkan membuktikan keberadaan Perigi Telaga Tujuh beserta cerita magis yang menyertainya.
Mengapa Disebut Perigi Tujuh Purnama?
Selain pelangi, cahaya bulan juga menjadi bagian penting dalam legenda perigi tersebut.
Seniman penata tari Ruki Daryudi, yang akrab disapa Yudi, mengisahkan bahwa nama Perigi Tujuh Purnama berkaitan dengan penampakan bulan di langit Pulau Penyengat.
Menurut cerita yang ia kenal, ketika bulan memasuki fase terang menjelang purnama, mulai sekitar malam kesembilan hingga malam purnama penuh, cahaya bulan seolah-olah jatuh tepat di kawasan perigi.
Kisah tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi Yudi untuk menciptakan karya tari inovatif berjudul Secercah Air Terang Bulan pada 2016, dengan komposisi musik oleh Helmi.
Karya itu bukan sekadar mengangkat legenda sebuah sumur tua. Di dalamnya terdapat pesan tentang hubungan air, kehidupan, dan perjalanan peradaban manusia.
Air bukan hanya kebutuhan untuk menghilangkan dahaga. Dalam kehidupan masyarakat masa lalu, sumber air turut menentukan tumbuhnya permukiman, aktivitas perdagangan, dan perjalanan antarpulau.
Melalui karya tarinya, Yudi menyampaikan gagasan bahwa masa depan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman terhadap masa lalu.
Menelusuri Lokasi Perigi Legendaris di Kampung Baru
Bagi wisatawan yang ingin menelusuri jejak Perigi Telaga Tujuh, kawasan yang dipercaya sebagai lokasi perigi berada di Kampung Baru, di sisi timur Pulau Penyengat.
Dari Dermaga Pulau Penyengat, perjalanan menuju kawasan tersebut diperkirakan memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat menit, melewati kawasan Masjid Sultan Riau. Waktu tempuh dapat berbeda bergantung pada titik tujuan dan kondisi perjalanan.
Saat menelusuri lokasi bersama Yudi, sejumlah gugusan batu berukuran besar terlihat di tepi pantai. Warga setempat menyebutnya batu hampar. Ketika air laut sedang pasang, sebagian besar batu hanya tampak di permukaan.
Di kawasan yang diyakini pernah menjadi lokasi perigi itu, Muhammad Amin, seorang peladang berusia 72 tahun, mengaku pernah mendengar cerita tentang keberadaan sumur di tepi laut.
Namun, ia tidak dapat memastikan apakah sumur yang pernah diceritakan kepadanya benar-benar merupakan Perigi Telaga Tujuh atau Perigi Tujuh Purnama.
Kesaksian tersebut memperlihatkan bahwa cerita mengenai perigi masih tersimpan dalam ingatan sebagian masyarakat, meskipun detail sejarahnya belum dapat dipastikan.
Bagi pengunjung, lokasi ini dapat menjadi bagian dari perjalanan menelusuri sisi lain Pulau Penyengat. Akan tetapi, wisatawan sebaiknya memahami bahwa tempat tersebut merupakan lokasi yang dikaitkan dengan legenda, bukan situs perigi yang keberadaannya telah terverifikasi secara historis.
Danau Tua yang Pernah Menjadi Sumber Air Para Pelaut
Jika keberadaan Perigi Telaga Tujuh masih diperdebatkan, cerita mengenai sumber air tawar di Pulau Penyengat memiliki sisi sejarah yang berbeda.
Aswandi Sahri menjelaskan bahwa terdapat sebuah danau kecil di depan kawasan Istana Kantor, tidak jauh dari Bukit Kursi. Danau itu diyakini telah ada sebelum Istana Kantor dibangun pada awal abad ke-19.
Dalam penjelasannya, danau tersebut merupakan sumber air tawar yang masuk akal dimanfaatkan para pelaut yang melintasi perairan sekitar Pulau Penyengat.
Pada masa ketika kapal-kapal dagang berlayar melewati Selat Melaka dan perairan Kepulauan Riau, persediaan air tawar menjadi kebutuhan penting. Air digunakan untuk minum dan memenuhi kebutuhan awak kapal selama perjalanan panjang.
Menurut Aswandi, kebutuhan air kapal dalam jumlah besar sulit dipenuhi hanya dengan mengandalkan sumur. Karena itu, keberadaan danau menjadi penjelasan yang lebih masuk akal untuk memenuhi kebutuhan air para pelaut.
Keberadaan danau tersebut juga disebut tercantum dalam peta Belanda abad ke-19 menggunakan kata meer, istilah bahasa Belanda yang berarti danau.
Catatan peta lama ini memberikan petunjuk berbeda dibandingkan cerita lisan mengenai Perigi Telaga Tujuh. Meski demikian, rincian mengenai pemanfaatan danau oleh kapal-kapal tertentu tetap memerlukan dukungan sumber sejarah yang sesuai.
Dari Kisah Pelaut, Muncul Nama Pulau Penyengat
Tahukah Anda bahwa nama Pulau Penyengat memiliki cerita yang berkaitan dengan perjalanan para pelaut?
Menurut penjelasan Aswandi, sebelum menjadi permukiman dan pusat pemerintahan kerajaan, pulau ini telah dikenal oleh para pelaut yang singgah untuk mengambil air tawar.
Dalam kisah yang diwariskan, sebagian pelaut disebut mengalami sengatan serangga sejenis lebah ketika berada di pulau tersebut. Peristiwa itu kemudian dikaitkan dengan lahirnya nama Penyengat.
Aswandi menekankan bahwa kisah penamaan tersebut tidak berhubungan dengan banyaknya sumur yang ditemukan di pulau itu. Menurutnya, perigi-perigi yang ada berkembang setelah kawasan tersebut mulai dihuni masyarakat.
Mengapa Pulau Penyengat Memiliki Banyak Perigi Tua?
Pulau Penyengat tidak hanya dikenal karena masjid dan makam tokoh Melayu. Pulau ini juga memiliki banyak perigi tua yang tersebar di berbagai kawasan permukiman.
Sejarawan Raja Malik Hafizal, yang mengelola Perpustakaan Balai Maklumat Pulau Penyengat, turut menjelaskan sejarah pulau tersebut dalam kegiatan Ekspedisi Menulis Penyengat yang diikuti puluhan wartawan pada 17–18 Oktober 2026.
Menurut penjelasan Aswandi, banyaknya perigi berkaitan dengan perkembangan permukiman ketika Pulau Penyengat menjadi bagian penting dari pemerintahan Kerajaan Riau Lingga Johor dan Pahang pada awal abad ke-19.
Ketika penduduk bertambah dan kampung-kampung tumbuh, kebutuhan terhadap sumber air bersih juga meningkat. Setiap kawasan permukiman memerlukan sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sejumlah kampung memiliki sejarah penamaan yang berkaitan dengan kelompok masyarakat yang tinggal di dalamnya, antara lain Kampung Bugis, Kampung Boyan, dan Kampung Ladi.
Di Kampung Ladi, sebuah perigi lama disebut masih dapat ditemukan di bawah kawasan Balai Adat. Sementara itu, di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Perigi Batu, terdapat batu hampar dengan bentuk menyerupai lesung yang dikaitkan dengan keberadaan sebuah perigi.
Sebagian perigi tua di Pulau Penyengat bahkan masih dimanfaatkan warga. Beberapa di antaranya telah dilengkapi pipa distribusi dan mesin penyedot air.
Bagi wisatawan, keberadaan perigi-perigi tersebut memperlihatkan sisi kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu masa lalu. Di balik bangunan kerajaan dan kompleks makam, ada infrastruktur sederhana yang berperan penting dalam menopang kehidupan penduduk.
Pulau Penyengat, Pulau Maskawin dengan Sejarah Kerajaan Melayu
Perjalanan ke Pulau Penyengat tentu belum lengkap tanpa mengenal kisahnya sebagai Pulau Maskawin.
Dalam sejarah Melayu Riau Lingga Johor dan Pahang, Pulau Penyengat dikaitkan dengan hadiah perkawinan Sultan Mahmud Riayat Syah kepada Raja Hamidah, putri Raja Haji Fisabilillah yang kemudian dikenal sebagai Engku Puteri Raja Hamidah.
Peristiwa tersebut diperkirakan berlangsung sekitar 1806, menurut penjelasan sejarawan Raja Malik Hafizal.
Seiring perkembangannya, Pulau Penyengat menjadi salah satu pusat penting pemerintahan dan kebudayaan Melayu pada abad ke-19. Berbagai peninggalan sejarah masih dapat dijumpai hingga sekarang.
Beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi antara lain:
Masjid Sultan Riau — ikon Pulau Penyengat yang dikenal dengan kisah penggunaan putih telur dalam bahan perekat pembangunannya.
Istana Kantor — peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan pemerintahan kerajaan Melayu.
Istana Tabib — salah satu bangunan lama yang menjadi bagian dari warisan sejarah pulau.
Benteng Bukit Kursi — kawasan pertahanan dengan sejumlah meriam lama yang masih dapat dijumpai.
Makam Engku Puteri Raja Hamidah — tempat ziarah yang berkaitan dengan sejarah keluarga kerajaan.
Makam Raja Ali Haji — tempat peristirahatan pujangga Melayu yang dikenal melalui karya sastra dan pemikirannya.
Makam Raja Haji Fisabilillah — kompleks makam tokoh yang dikenal sebagai pahlawan nasional.
Selain wisata sejarah, Pulau Penyengat juga menawarkan pengalaman menyusuri kampung-kampung lama, melihat kehidupan warga, dan mengenal tradisi Melayu yang masih bertahan.
Tips Wisata Sejarah ke Pulau Penyengat
Bagi Anda yang ingin berkunjung ke Pulau Penyengat dari Tanjungpinang, ada beberapa hal yang dapat dipersiapkan agar perjalanan lebih bermakna.
1. Luangkan waktu untuk menjelajahi situs sejarah
Jangan hanya mengunjungi Masjid Sultan Riau. Sempatkan pula menelusuri kawasan Istana Kantor, Benteng Bukit Kursi, serta kompleks makam tokoh Melayu.
2. Gunakan jasa pemandu lokal
Pemandu lokal dapat membantu menjelaskan kisah di balik bangunan tua, tradisi masyarakat, dan cerita rakyat yang belum banyak dikenal wisatawan.
3. Bedakan legenda dengan catatan sejarah
Cerita Perigi Telaga Tujuh merupakan contoh bagaimana legenda tumbuh dalam ingatan masyarakat. Dengarkan kisahnya, tetapi tetap perhatikan apakah informasi tersebut didukung sumber sejarah yang dapat diverifikasi.
4. Perhatikan kondisi pasang surut air laut
Jika ingin melihat kawasan pesisir Kampung Baru yang dikaitkan dengan Perigi Telaga Tujuh, perhatikan kondisi air laut. Batu-batu di tepi pantai dapat tertutup ketika air pasang. Hindari berjalan ke batuan licin atau mendekati ombak yang berisiko.
5. Hormati situs bersejarah dan tempat ziarah
Kenakan pakaian yang sopan ketika memasuki masjid dan kompleks makam. Jaga kebersihan serta hindari merusak bangunan, batu, atau benda peninggalan masa lalu.
Menjaga Cerita Lama, Merawat Ingatan Pulau Penyengat
Kisah Perigi Telaga Tujuh menunjukkan bahwa Pulau Penyengat memiliki lapisan cerita yang jauh lebih luas daripada situs-situs bersejarah yang selama ini populer.
Ada kisah tentang sumur yang dikaitkan dengan pelangi dan purnama. Ada pula danau yang tercatat dalam peta lama, perigi-perigi yang menjadi bagian dari kehidupan kampung, serta cerita para pelaut yang singgah untuk mendapatkan air tawar.
Tidak semua kisah memiliki tingkat pembuktian sejarah yang sama. Sebagian masih berupa cerita rakyat, sementara sebagian lainnya dapat ditelusuri melalui sumber tertulis dan peninggalan fisik.
Namun, keduanya membuka ruang untuk memahami bagaimana masyarakat membangun ingatan tentang tempat tinggalnya.
Bagi wisatawan, menelusuri Pulau Penyengat bukan sekadar melihat bangunan tua atau berziarah ke makam tokoh Melayu. Perjalanan ini juga menjadi kesempatan untuk memahami hubungan antara air, pelayaran, permukiman, dan tumbuhnya peradaban di Kepulauan Riau.
Dan siapa tahu, di antara lorong kampung, batu hampar di tepi laut, serta perigi-perigi tua yang masih tersisa, Anda akan menemukan sudut Pulau Penyengat yang selama ini luput dari perhatian.
Pulau Penyengat bukan hanya menyimpan sejarah kerajaan, tetapi juga kisah-kisah lama yang masih menunggu untuk ditelusuri.
Apakah anda tertarik untuk menjelajah Pulau Penyengat? Anda bisa Barokah Tour & Travel Batam. (dr)

