BATAM – Melintas perlahan di atas perahu kecil, membelah sungai yang diapit hutan mangrove hijau, menjadi pengalaman menenangkan yang jarang ditemukan di kota metropolitan. Jauh dari kebisingan kendaraan, klakson, dan polusi udara, wisata mangrove Tanjung Piayu menghadirkan sensasi “healing” alami di Kota Batam, Kepulauan Riau.
Menjauh dari hiruk-pikuk kota menjadi tujuan banyak warga Batam saat akhir pekan. Menikmati rindangnya pepohonan mangrove dan kehidupan satwa liar di sekitarnya menjadi alternatif liburan yang menyejukkan jiwa. Suasana itu terasa kuat saat wisatawan menyusuri kawasan hutan lindung mangrove Tanjung Piayu.
Baca juga: View Laut, Private Pool, Sunset Mewah! 6 Penginapan Romantis di Kepri untuk Libur Panjang 2026
Tak sekadar menawarkan panorama alam, pengelola kawasan juga menyediakan paket wisata edukatif berupa penanaman mangrove sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Sensasi Seperti di Hutan Amazon

Melaju perlahan di antara hutan mangrove yang rapat dan menjulang tinggi, wisatawan seolah dipindahkan ke dunia lain. Tidak terlihat lalu lalang kendaraan, tidak terdengar deru mesin atau klakson, dan tak ada kepulan asap polusi.
Baca juga: Tak Hanya Industri, Ini 5 Tempat Wisata Favorit di Batam yang Wajib Dikunjungi
Yang tersaji hanyalah hamparan mangrove hijau yang membentang mengikuti alur sungai. Burung-burung beterbangan, ikan-ikan kecil tampak membayang di air yang tenang, sementara angin utara membawa suasana sejuk. Sesekali, suara satwa liar terdengar memecah keheningan.
“Kita seperti berada di dalam hutan Amazon,” ujar Fika, salah satu wisatawan yang mengikuti tur mangrove, Minggu, 11 Januari 2026. Rombongan wisatawan, termasuk Tempo, ikut merasakan pengalaman tersebut.
Tur dimulai dengan menyusuri sungai besar yang diapit mangrove lebat. Sepanjang perjalanan, pengelola kawasan menjelaskan berbagai jenis mangrove yang tumbuh di wilayah tersebut.
Mangrove Langka dan Usia Puluhan Tahun
Pendiri Akar Bhumi Indonesia (ABI) sekaligus pengelola kawasan, Hendrik Hermawan, menjelaskan bahwa mayoritas mangrove di Tanjung Piayu berjenis Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata.
“Jenis mangrove ini hidup di kawasan berlumpur,” kata Hendrik.
Ia membandingkan dengan wilayah lain di Batam seperti Nongsa dan Tiban yang didominasi mangrove jenis Rhizophora stylosa, yang tumbuh di area berbatu.
Setelah menyusuri sungai besar, perahu membawa wisatawan masuk ke alur sungai yang lebih kecil, menuju kawasan mangrove muda dengan tinggi sekitar dua meter.
“Ini mangrove hasil penanaman lima tahun lalu. Pertumbuhannya memang sangat lama,” ujar Hendrik sambil menunjuk hamparan pohon muda.
Tak jauh dari sana, berdiri mangrove berukuran besar yang diperkirakan telah berusia sekitar 40 tahun. “Kami terus menjaga kawasan ini karena ini merupakan gugus terakhir hutan mangrove di Batam,” tegasnya.
Wisata Sekaligus Menanam Mangrove
Wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini tidak hanya diajak menikmati alam, tetapi juga dilibatkan langsung dalam upaya konservasi. ABI menyediakan paket wisata menanam mangrove sekaligus tur perahu menyusuri hutan.
Untuk wisatawan mancanegara, paket dibanderol Rp225.000 per orang. Sementara wisatawan nusantara dikenakan Rp200.000 per orang, sudah termasuk satu batang mangrove dan satu kali perjalanan keliling kawasan.
Gugus Terakhir Mangrove di Batam
Hutan lindung mangrove Tanjung Piayu dikelola oleh organisasi lingkungan Akar Bhumi Indonesia (ABI). Lokasinya berada di bagian selatan Pulau Batam, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari pusat kota.
Hendrik menyebutkan, luas kawasan mangrove Tanjung Piayu mencapai 220 hektare. “Sebanyak 33 persen hutan mangrove di Batam berada di sini, dari total 660 hektare mangrove di Pulau Batam,” katanya.
Secara keseluruhan, hutan mangrove di Kota Batam yang mencakup Pulau Batam, Galang, dan Rempang mencapai 17.600 hektare, dengan 404 hektare di antaranya berada dalam kawasan hutan lindung.
“Mangrove Piayu ini gugus terakhir yang tersisa,” ujar Hendrik.
Kawasan mangrove yang terjaga ini menjadi rumah bagi beragam satwa liar, mulai dari burung bangau, raja udang, elang, berang-berang, hingga pelikan. Sebuah oase alami yang menjadi bukti bahwa Batam tak hanya soal industri dan gedung tinggi, tetapi juga tentang harmoni dengan alam.
Untuk informasi paket liburan dan sewa mobil di Batam, bisa hubungi Barokah Tour. (d)
Sumber: tempo


Pingback: Libur Isra Mikraj, Pantai Tanjung Pinggir dan Lembah Pelangi Jadi Magnet Wisata Batam